Jumat, 08 Januari 2010

Rumahku Surgaku


Sebuah pendidikan berawal dari rumah. Rumah yang baik adalah rumah yang penghuni-penghuninya mampu mencetak generasi unggul bangsa dan negaranya.

Dalam konsep pendidikan Barat pendidikan anak dimulai sejak dalam kandungan. Sementara di dalam Islam sudah jauh lebih maju. Dimana awal pendidikan dimulai jauh hari sejak sebelum mereka mendapatkan predikat “orang tua” yakni ketika mereka memilih pasangan hidup (suami-istri). Dari sinilah awal mula ditentukan kualitas sebuah generasi yang menentukan nasib bangsa, Negara dan agama.

Jika sebuah keluarga dapat menghasilkan generasi yang baik maka bukan tak mungkin masa depan bangsapun akan baik pula. Jika satu keluarga berkomitmen dan beriktiar menhasilkan 2 orang saja generasi terbaik dari keturunan mereka, maka bagaimana jika seribu atau seratus ribu keluarga yang berkomitmen demikian? Di pundak mereka masa depan bangsa ditentukan.

Setelah proses mencari pasangn selesai, masih banyak lagi persoalan yang harus dilalui. Sebelum kelahiran, banyak proses yang juga dapat menjadi momen perhatian orang tua adalah memaksimalkan perkembangan buah hatinya, diantaranya : pemenuhan terhadap hak-hak suami-istri termasuk di dalamnya perkara nafkah yang halal dan baik, adab-adab ketika berhubungan, perhatian terhadap kehamilan istri, perhatian terhadap janin termasuk persiapan-persiapan untuk menghadapi kelahiran anak

Lalu setelah lahir, disinilah para orang tua benar-benar merasakan ujian mengerjakan ”ladang amal” mendidik anak. Perkara mendidik anak bukanlah hal yang mudah seperti membalik telapak tangan kemudian selesai. Akan tetapi di dalam pendidikan Islam, Rosulullah membaginya dalam 3 tahapan :
1. Masa usia 0-7 tahun (masa bermain)
2. Masa usia 7-14 tahun (masa sekolah)
3. Masa usia 14-21 tahun
(Maaf kami tidak bahas tahap 2 dan 3)

Para ahli pendidikan menamakan usia 0-5 tahun adalah usia emas (golden age). Dimana perkembangan intelektual anak sejak lahir hingga usia 4 tahun mencapai50%, usia 4-8 tahun30%. Ini berarti 80 % perkembangan intelektual manusia terjadi dan memberi pengaruh besar pada usia berikutnya. Masa ini sering disebut masa bermain, dimana pada masa ini tidak boleh ada tuntutan-tuntutan. Dan anak perlu diberikan rangsangan beragam dan sebanyak mungkin agar system kecerdasannya berkembang secara optimal. Pada masa ini orang tua lebih tepat berada di samping anak. Karena pola asuh pada masa ini akan berpengaruh terhadap karakternya.

Namun kadang orang tua lupa memanfaatkan sebaik-baiknya pada masa ini. Sehingga mereka berkata, “Nanti juga tahu sendiri.” Dan akhirnya mereka menyerahkan pendidikan anaknya ke sekolah, ke penitipan anak atau ke pembantunya.
Semua berpulang lagi kepada kita, terserah kita. Apakah kita mendidik anak sekenanya, sesempatnya, sampingan saja atau dengan di backup ilmu, didesainkan, direncanakan dan diseriuskan? Silahkan saja.

Jika anda diberi pilihan mau dijadikan apa anak anda nantinya : secerdas Yahudi, seprofesional Nasrani atau sebijaksana Mahatma Gandhi ? pastinya anda memilih semuanya.

Maka tugas sekolah hanya membantu mempermudah kewajiban orang tua dalam mendidik anak bukan mengalihkan tanggung jawab. Sementara tugas guru hanya membimbing secara akademik dan kompetensi mereka. Namun tugas orang tua di rumah selain bertanggungjawab terhadap pendidikan anak, mengarahkan juga memberikan tauladan. Prof. Dr. H. Nuhammad Asrori dari Universitas Tanjungpura, Pontianak mengatakan, “Jika orang tua menginginkan anaknya menjadi sholeh maka harus dimulai dari orang tuanya yang sholeh.”

Buat para orang tua di rumah, sudah siapkah anda menjadi orang tua yang baik, yang sholeh, yang bijaksana bagi putra-putri anda? Jika belum, mulailah dari sekarang. Jadikanlah rumah anda surga buat putra-putri anda. Jika sudah, Maka pertahankanlah dan semoga anda menjadi tauladan buat putra-putri anda dan masyarakat luas. (nr)







0 komentar:

Poskan Komentar